MY
ADVENTURE IN PROBOLINGGO
Berawal
dari bangun jam 04.45 pagi, aku menjalani hari-hariku di Probolinggo bersama
teman-teman Jurnalis. Ya, mengunjungi media massa di Probolinggo itulah tujuan
utama kami. Suara Kota merupakan sapaan awal kunjungan kali ini. Berdandan
rapi, memakai ID Card, bersepatu hitam, dan memakai jas almamater layaknya
seorang mahasiswa. Disambut oleh karpet merah yang terhampar sangat panjang,
meja yang penuh dengan tumpukan buku, dan sederet senyuman dari rekan-rekan
radio membuat kami sangat tersanjung. Kak Stebby, Mbak Retno, Mas Roys, Mbak
Faiqoh, Mas Fitrah, Mas Ade, dan Mbak Nobi, adalah teman baru yang ku dapat di
Suara Kota. Bertemu dengan orang-orang dengan bakat mencorat-coret buku
membuatku sangat beruntung. Karena tak semua orang dapat bertatap muka dengan
pemuda-pemudi bertangan ajaib ini.
Wajahku
memucat, keringat dingin mulai asyik membasahi seluruh tubuhku saat aku diminta
untuk siaran radio. Baru pertama kali dalam hidup, aku memperdengarkan suara
imutku pada khalayak ramai. Bibirku mulai bergetar saat aku menjawab pertanyaan
dari Kak Stebby yang saat itu memberiku pertanyaan saat siaran. Aku menjawab
pertanyaan itu tanpa berpikir panjang. Semua yang aku pikirkan, aku ucapkan.
Entah itu benar atau malah menyimpang dari pertanyaan. Aku tak peduli.
Jam
sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB, saatnya kami makan siang di warung bakso
dekat Suara Kota. Hanya berjalan beberapa langkah, kami sampai di warung bakso.
Kelucuan pun mulai muncul. Berebut siapa dulu yang harus mendapatkan bakso
lezat itu. Tak disangka, guru pendamping kami Pak Jadid, malah mendahului
makan. Mungkin sudah kelaparan.
Perut
sudah terisi penuh. Kami melanjutkan perjalanan ke Taman Wisata Hutan Mangrove.
Hamparan laut yang biru dan pepohonan di kanan kiri, mengiringi langkahku
menapaki jembatan kayu yang panjang. Berpose di depan kamera adalah sesuatu
yang wajib dilakukan. “Hahahaha..” hanya kata itu yang terdengar saat
bersenang-senang di Hutan Mangrove.
Perjalan
kami tak berhenti di situ saja. Masih ada tiga kunjungan lagi yang tak boleh kami
lewatkan. Kebun Binatang Mini, Museum, dan Kabar Probolinggo. Ketiga tempat itu
berhasil kami kunjungi dan selesai pukul 20.00 WIB. Di dalam perutku terdengar
suara aneh, pertanda kalau aku sudah lapar. Mobil berjalan pelan dan melihat
kanan kiri mencari kedai makan.
Pesanan
kami saat itu adalah nasi goreng berteman dengan es jeruk. Tak lama kami
menunggu, nasi goreng pun datang. Mataku terbelalak melihat sepiring nasi
goreng itu. Porsi nasi itu seperti porsi untuk seorang kuli. Aku menelan ludah
dan berkata dalam hati “dapatkah aku menghabiskan nasi goreng super jumbo ini?”
Perlahan aku mencoba memasukkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulutku.
Awalnya tenang-tenang saja, kerongkonganku masih lancar untuk menelannya.
Sampai di pertengahan, kerongkonganku sudah mulai kaku dan sulit untuk menelan
nasi itu. Akhirnya, ku sudahi saja makannya.
Kulihat piring
teman-teman. Tak ada yang bersih, semuanya ada sisa. Apalagi punya kedua
temanku, Vio dan Mega, tak tersentuh sedikitpun. Perjalananpun kami lanjutkan dengan
perut yang mulai membesar karena kekenyangan.