Selasa, 31 Desember 2013

My Adventure In Probolinggo



MY ADVENTURE IN PROBOLINGGO
            Berawal dari bangun jam 04.45 pagi, aku menjalani hari-hariku di Probolinggo bersama teman-teman Jurnalis. Ya, mengunjungi media massa di Probolinggo itulah tujuan utama kami. Suara Kota merupakan sapaan awal kunjungan kali ini. Berdandan rapi, memakai ID Card, bersepatu hitam, dan memakai jas almamater layaknya seorang mahasiswa. Disambut oleh karpet merah yang terhampar sangat panjang, meja yang penuh dengan tumpukan buku, dan sederet senyuman dari rekan-rekan radio membuat kami sangat tersanjung. Kak Stebby, Mbak Retno, Mas Roys, Mbak Faiqoh, Mas Fitrah, Mas Ade, dan Mbak Nobi, adalah teman baru yang ku dapat di Suara Kota. Bertemu dengan orang-orang dengan bakat mencorat-coret buku membuatku sangat beruntung. Karena tak semua orang dapat bertatap muka dengan pemuda-pemudi bertangan ajaib ini.
Wajahku memucat, keringat dingin mulai asyik membasahi seluruh tubuhku saat aku diminta untuk siaran radio. Baru pertama kali dalam hidup, aku memperdengarkan suara imutku pada khalayak ramai. Bibirku mulai bergetar saat aku menjawab pertanyaan dari Kak Stebby yang saat itu memberiku pertanyaan saat siaran. Aku menjawab pertanyaan itu tanpa berpikir panjang. Semua yang aku pikirkan, aku ucapkan. Entah itu benar atau malah menyimpang dari pertanyaan. Aku tak peduli.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB, saatnya kami makan siang di warung bakso dekat Suara Kota. Hanya berjalan beberapa langkah, kami sampai di warung bakso. Kelucuan pun mulai muncul. Berebut siapa dulu yang harus mendapatkan bakso lezat itu. Tak disangka, guru pendamping kami Pak Jadid, malah mendahului makan. Mungkin sudah kelaparan.
Perut sudah terisi penuh. Kami melanjutkan perjalanan ke Taman Wisata Hutan Mangrove. Hamparan laut yang biru dan pepohonan di kanan kiri, mengiringi langkahku menapaki jembatan kayu yang panjang. Berpose di depan kamera adalah sesuatu yang wajib dilakukan. “Hahahaha..” hanya kata itu yang terdengar saat bersenang-senang di Hutan Mangrove.
Perjalan kami tak berhenti di situ saja. Masih ada tiga kunjungan lagi yang tak boleh kami lewatkan. Kebun Binatang Mini, Museum, dan Kabar Probolinggo. Ketiga tempat itu berhasil kami kunjungi dan selesai pukul 20.00 WIB. Di dalam perutku terdengar suara aneh, pertanda kalau aku sudah lapar. Mobil berjalan pelan dan melihat kanan kiri mencari kedai makan.
Pesanan kami saat itu adalah nasi goreng berteman dengan es jeruk. Tak lama kami menunggu, nasi goreng pun datang. Mataku terbelalak melihat sepiring nasi goreng itu. Porsi nasi itu seperti porsi untuk seorang kuli. Aku menelan ludah dan berkata dalam hati “dapatkah aku menghabiskan nasi goreng super jumbo ini?” Perlahan aku mencoba memasukkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulutku. Awalnya tenang-tenang saja, kerongkonganku masih lancar untuk menelannya. Sampai di pertengahan, kerongkonganku sudah mulai kaku dan sulit untuk menelan nasi itu. Akhirnya, ku sudahi saja makannya.
Kulihat piring teman-teman. Tak ada yang bersih, semuanya ada sisa. Apalagi punya kedua temanku, Vio dan Mega, tak tersentuh sedikitpun. Perjalananpun kami lanjutkan dengan perut yang mulai membesar karena kekenyangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar