freAKtion (freak Analis Kesehatan In Action), adalah rumah kedua bagiku. Beranggotakan 21 orang, dengan 4 laki-laki dan 17 perempuan. Semua pikiran-pikiran unik, serta gaya selengekan yang amat kental, membuatku tak merasa bosan berada di dekat mereka. :) Semua karakter serta style bertumpah ruah di kelas ini. Kejadian yang mengocok perut juga sering sekali terjadi. Tidak di kelas, tidak di laboraturium saat kita praktek, 'dagelan' mereka tetap sama, mampu membuat semuanya tertawa. Hihihi..
Saat istirahat, pasti ada ritual yang dilakukan, yakni wisata kuliner. Setiap ada yang membawa bekal ato 'bontot', disitulah semuanya beraksi. Mencicipi satu persatu makanan yang mereka bawa. Ada yang membawa nasi goreng, pecel lauk peyek, bumbu bali, bothokan, mie goreng, bubur ayam, bahkan nasi kuning pun ada. Tak jarang pula yang membawa bekal hanya kebagian separuh dari yang dibawanya. Hehehehe... :D
Saat sedang asyik-asyiknya makan, ehh ada aja yang nyempet-nyempetin waktu buat motret tiap kejadian. Siapa lagi kalau bukan si Nikmatul Choiriah (NiCho). Penggemar Super Junior ini ternyata juga gemar mengabadikan setiap moment. Dia adalah si 'secret camera'nya AK. Semua kejadian lucu dan unik tak pernah terlewatkan ia abadikan. Mulai dari anak yang makan, tidur, praktek, sampai saat ada yang jatuh di wastafel pun ia potret. Ampunn dahhh...
Saat si NiCho sedang asyik-asyiknya motret, pasti ada aja yang jailin. Trio Idiot, Samsul, Yusron, dan Burhan. Mereka bertiga ini tak henti-hentinya menjahili Ria. Salah satunya yang bikin saia 'kemekelen' adalah saat mereka kompak menyembunyikan buku Ria. Entah bagaimana, map si Ria yang ia letakkan di loker bawah meja, hilang dalam satu kedipan mata. Bahkan aku yang duduk di sampingnya pun tak mengetahui bagaimana prosesi hilangnya map tersebut. Mungkin tangan mereka sudah terampil dalam mengambil barang. Moga aja nggak jadi copet entar. :D Hehehehe~
Diantara member trio idiot, Ria lebih sering bergurau dengan Yusron. Setiap peristiwa hampir dilakukan bersama. *Aciyeeee* Dari masang LCD sampai tempat duduk mereka berdekatan, walaupun tak langsung disampingnya. Inilah yang membuat semuanya sigap menyomblangkan mereka. Hahahahaa... :D
Lepas dari kisah Ria dan Yusron yang alur kisahnya masih direncanakan oleh anak AK, saia akan bercerita satu kejadian lucu yang baru saja terjadi. Ini terjadi saat di laboraturium. Tanggal 27 Februari 2015, saat semua anak XI AK menjalani praktek pendalaman untuk persiapan prakerin. Di jadwal, tertera bahwa pada tanggal itu kita praktek feces. Pukul 7 tepat, semuanya sudah hadir dan menyiapkan alat-alat. Pukul 8, semua pada kelaparan karena menunggu guru produktif datang. Saat waktu luang, si Samsul tiba-tiba nyeletuk dan berkata....
Samsul : Ado, ado, yaopo rek, Mega ambek Novan iki gaanok kabare.
Aku : hahahahaa :D Emboh gaero aku.
Mega : -_-
Samsul : wes Meg, ndang wes. Pakdheku lho seng duwe sewoan terop ambek kuade.
Aku : ikuloh Ce. Enakseh koncone wes nawari. Ngkok gausah nyewo uwong gawe masang terop, ben Samsul mbek Burhan ae seng masang.
Burhan : Iyo Cece Meja Iki.
Samsul : Ngkok Meg, nek anakmu lair yo, jenengono Setya Adiyuangga.
Aku : Hahaha.... Iyo bener, Sul. Apik yaa.
Mega : Aduhhh... Arek" iki loh mesti.
Burhan : Hehehe... Setya Adiyuangga.
Mega : Burhan ikiloh, kok mikirno jenenge anake koncoe. Mbok yo jengeng.e anakmu dewe pikiren.
Aku : *mikir sejenak* Udin Agnisa.
All : Hahahahahahahhahahahahaha.......................... :D
Samsul : Lek aku dadi gurune yo Run, tak takoni ngene. 'Nama kamu siapa? | Agnisa | Nama panjangnya? | Udin Agnisa | Kok kolu bapakmu jenengno awakmu ndukk... |
All : Huahahahahahaha.............
Aku : Nek Yusron iku..... Khoiriya Musawwir. Hahahahaha :D Waapikkkk
Via : Lha iku kari siji durung. *Sambil nunjuk Sajidin*
Aku : Mmmmm.... Dewi Nur Rosita.
Via : Haha.. *tertawa tanpa sadar* Lhoo,,, kok aku seh?
Aku : Yowes pas mak :D
Hidup Adalah Perjuangan
Hidup perlu diperjuangkan. Karena kita hidup pun karena buah dari perjuangan. Memperjuangkan sesuatu yang patut diperjuangkan.
Sabtu, 28 Februari 2015
Kamis, 26 Februari 2015
Asyiknya Bermain Game
“YOU
WON!” Kalimat itulah yang membuat sebagian besar pecinta game atau gamers
senengnya nggak ketulungan. Ya, dunia game kini mula mendarah daging di
masyarakat khususnya anak-anak dan remaja. Animasi serta efek game yang
dahsyat, membuat penggunanya sulit untuk melepasnya. Tak hanya itu, rintangan
serta monster-monsternya juga membuat para pemain terpacu adrenalinnya. Mereka
akan memencet tombol apa saja demi mengalahkan monster tersebut. Tak jarang
pula mereka googling hanya untuk mengetahui kunci yang digunakan untuk
mematikan lawan.
Salah satu menu game pada PSP
Keduanya (mulai dari kiri : Irfan, Bachtiar) serius memainkan game
Koin-koin
emas juga mereka kumpulkan untuk membeli atribut tokoh yang dijalankan. Mulai
dari senjata, pakaian, ataupun tempat yang akan digunakan untuk bertarung. Satu
koin pun tak akan ketinggalan diambil walaupun berada dalam kobaran api
sekalipun. Ya, itu semua demi misi dalam game. Kini aplikasi game dapat
dijumpai di media elektronik. Misalnya saja, handphone, tablet, PSP,
komputer/laptop, bahkan media online pun menyediakan layanan game gratis.
M. Irfan Ibrahim
Wabah
‘game’ rupanya juga mulai menular ke sepupu kecilku. Muchammad Irfan Ibrahim,
yang akrab di panggil Irfan, Cipan, atau Baim. Ia masih berumur 4 tahun, namun
sudah pandai memainkan game. Bahkan aku pun pernah diledeknya ‘Kakak nggak iso ae.’ Buhsyett,, sebegitu
bodohnya kah aku dalam bermain game?
Irfan serius bermain PSP
Laki-laki penggemar
coklat dan es krim ini memang suka bermain game. Apalagi sejak ia dibelikan
PSP. Kemampuan bermain gamenya mulai meningkat. Anehnya, ia bisa mengikuti
prosedur dan menekan tombol yang benar. Mulai dari cara menghidupkan, memilih
menu game, bermain game, sampai memenangkan game pun dia bisa. Padahal, Si Irfan
masih belum merambah dunia taman kanak-kanak (TK). Otomatis, dia masih belum
bisa baca. Lalu, bagaimana dia bisa tahu tombol mana yang harus dipencet? *Ini
masih menjadi PR bagi saia*
Untungnya,
kecintaan Irfan pada game tak membuatnya menutup diri dari lingkungan. Artinya,
dia juga masih bermain dengan teman sebayanya. Jadi, game pun tak menjadikannya
jauh dari dunia kecilnya.
Senin, 02 Februari 2015
The Real Ghost
Momok paling menyeramkan dibandingkan dengan sekumpulan keluarga 'ghost' sebenarnya adalah 'kimia'. Momok ini adalah satu-satunya hantu nyata yang sering mengganggu kelangsungan hidup para belia usia remaja. Materi yang memang pada dasarnya diharuskan untuk mahir dalam berhitung serta menghafal setiap rumus kimia, menjadi terasa berat bagi sebagian siswa dengan kapasitas otak ber-ram kecil. Kondisi ini juga didukung oleh si pengajar yang killer. Bayangkan saja, baru menyebut mapel nya saja rasanya otak ini sudah 'njindel', bagaimana nanti bila di 'cekoki' materi segambreng? Tak terbayang ruwetnya saraf-sarafku untuk mentransfer data yang diterima melalui indra pendengaran dan pengelihatan untuk disimpan dalam memori jangka panjang. *Ohhh* Belum lagi etika si pengajar dalam menyampaikan materi yang cukup membosankan. Masuk dengan wajah kusut - duduk - mengambil laptop dan menyiapkan proyektor - menerangkan beratus-ratus slide - diberi contoh soal (tanpa mengetahui apakah muridnya paham) - dekte soal - dikasih oleh oleh (PR). *Curhat. Ehh* Tak ayal jika siswa hanya merespon dengan menguap serta menganggukkan kepala dengan terpaksa. Lalu, bagaimana cara mengatasi problematika yang marak di kalangan remaja setingkat SMA?
Sebenarnya, semua mata pelajaran itu akan tampak membosankan, melelahkan, bahkan dengan mapel yang kita sukai sekalipun. Karena, mana ada sih orang apalagi remaja yang mau dan dengan ikhlas merumitkan dirinya dengan pelajaran-pelajaran yang hanya menjadi penghalang untuk kesenangannya? Ya, mungkin ada tapi perbandingannya hanya 1 : 1000.000. *Ya, semoga saya termasuk di perbandingan 1* Namun, semua itu akan lenyap oleh proses belajar di dalam kelas. Kelas yang kondusif akan menciptakan suasana belajar yang nyaman serta asyik untuk siswa. Tak perlu kelas mewah berukuran 1 hektar dengan meja dari emas serta tinta perak. Hanya dengan tersenyum dan lebih komunikatif. Hanya itu sebenarnya. Tak menuntut 'muluk-muluk' , cukup mengerti peserta didik dan menjadikan mereka sebagai 'teman' untuk belajar.
Sisi lain dari kimia yang bisa menarik siswa salah satunya adalah dengan eksperimennya. Sebab apa? Kimia itu ilmu sihir, sulap, magic, dsb. Kita dapat mencampurkan bahan satu dengan bahan yang lain, mengocoknya, dan memberikan sedikit sentuhan tangan, lalu taraaa.... Jadilah warna baru. Itu adalah salah satu trik magic tanpa bertentangan dengan hukum kimia. Apalagi kalau sampai terjadi semburan gas, air yang meletup-letup. Huaa, pasti akan lebih menarik untuk dipelajari. ^_^
Senin, 03 November 2014
Sabtu, 20 September 2014
The Deaf Frog
Alkisah di negeri katak diadakan
sebuah sayembara. Barang siapa mampu memanjat
sebuah menara yang tinggi di tengah kota akan mendapatkan sekantong uang
emas. Semua katak muda di negeri itu bersemangat untuk memenangkan sayembara,
termasuk katak kecil yang hidup di pinggiran negeri itu. Begitu si katak kecil
datang ke perlombaan, semua katak tertawa mengejek. Apalagi saingannya adalah
katak bertubuh kekar, sedangkan ia amatlah kurus. Namun, si katak kecil hanya
tersenyum dan membulatkan tekad untuk mengikuti sayembara itu
Akhirnya perlombaan dimulai. Baru
beberapa meter menanjak, beberapa katak jatuh. Katak yang lain memerhatikan
katak yang jatuh tadi dengan pandangan ngeri. Mereka baru sadar, bahwa
kemampuan mereka sebagai katak adalah melompat bukan memanjat. Satu persatu
katak jatuh, dan hanya tersisa 3 katak, termasuk katak kecil itu.
“Puncak menara itu sangat tinggi.
Mustahil kalian dapat mencapainya”, teriak penonton. Katak yang telah jatuh pun
ikut berteriak “dari ketinggian 3 meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi
dari ketinggian 15 meter. Pasti tulang-tulangmu remuk!” Seekor katak yang masih
memanjat mulai khawatir. Ketika melongok ke bawah, ia sadar ternyata memang
tinggi sekali menara itu. Akhirnya ia pun mengundurkan diri.
Tinggal dua katak yang masih
bertahan, termasuk si katak kecil. “Hati-hati, di atas sana licin, kamu pasti
terpeleset”, lagi-lagi teriakan penonton. Teriakan tersebut membuat saingan si
katak kecil berpikir “licin? Aduh, bagaimana kalau aku jatuh nanti?”. Akhirnya
saingan si katak kecil mengundurkan diri.
Tinggal katak kecil seorang diri.
“Katak kecil, di atas licin, kamu pasti jatuh”, suara lain menimpali “iya
menyerah saja. Angin di atas berhembus sangat kencang, kamu pasti terbang
terbawa angin”. Katak kecil tak peduli dan terus saja memanjat. Dan, hap, katak
kecil sampai di menara tersebut. Suara penonton mulai menyorakinya “Ya
Tuhan...... ia berhasil”. Saat katak kecil turun, penonton mengerubunginya dan
bertanya-tanya bagaimana bisa ia berhasil. Ketika katak kecil diam saja, ibu
katak kecil ini berkata “Katak kecil ini tuli. Ia bisa sampai di puncak karena
tidak mendengar ucapan-ucapan kalian yang melemahkan semangatnya. Ia bisa terus
memanjat karena ia hanya mendengarkan suara hatinya dan konsisten pada tujuan
yang ingin dicapainya”.
Insight : cerita di atas
menginspirasi bahwa dalam setiap perjalanan kita meraih impian, akan selalu ada
orang-orang di sekitar kita yang mencemooh, mencela, bahkan secara langsung
mencegah kita meraih impian. Mungkin tujuan mereka baik, misalnya tidak ingin
kita mengalami kesengsaraan atau kegagalan. Namun ada juga yang sengaja
mencegah kita meraih impian, karena dalam hatinya ada rasa iri jika ada orang
lain yang lebih berhasil dibandng mereka. Orang-orang iri tersebut pada
dasarnya puas dengan kondisi mereka dan tidak mau berusaha untuk lebih baik
lagi.
Jumat, 19 September 2014
Fakta Dibalik "Kingkong"
Fakta
Dibalik “Kingkong”
Kingkong.
Mungkin semua masyarakat sudah tahu dan mengenal hewan bertubuh besar sebangsa kera ini. K epopulerannya semakin
melesat setelah kera besar ini menjadi tokoh utama pada film ‘Kingkong’. Tak dipungkiri, film itu berhasil menyedot
berjuta pasang mata di seluruh penjuru dunia. Melihat fenomena tersebut, Bapak
I Ngurah Putu Sudelta memiliki pemikiran untuk membangun tempat pariwisata
dengan ikon utamanya kingkong. Dengan segala pertimbangan dan pemikiran, akhirnya beliau memutuskan
untuk membangun rekreasi keluarga “Kolam Renang Kingkong.”
“Menurut
saya, kolam renang di Pandaan sudah terlalu banyak. Ada sekitar 6 kolam renang
yang saya tahu. Karangjati, Sangar, Durensewu, Sebani I, Sebani II, dan Kurma
Asri.” Ujar lelaki 68 tahun itu. “Tetapi, keenamnya memiliki akses jalan yang
kurang strategis. Kita harus masuk melewati perkampungan dengan jalan minim.
Mobil pun juga akan kesulitan kalau harus melewati jalan sempit.” Lanjutnya.
Berbicara
soal kingkong, Bapak Ngurah ternyata memiliki beberapa alasan mengapa makhluk
besar ini dijadikan sebagai simbol usahanya. Menurutnya, kingkong sudah tak
asing lagi didengar oleh telinga
masyarakat. Anak kecil pun langsung berteriak ‘kingkong’ saat melihat patung
besar di pinggir jalan. Selain itu, film ‘Kingkong’ yang ditayangkan di televisi bertepatan
dengan Hari Raya Nyepi yang identik dengan ogok-ogok.
Menurut kepercayaan orang Hindu, ogok-ogok
diibaratkan sebagai sesuatu yang menakutkan atau sebagai simbol kejahatan.
Jadi, sebelum Nyepi, ogok-ogok
tersebut harus dimusnahkan terlebih dahulu. Untuk memusnahkan ogok-ogok diperlukan makhluk besar
perkasa. Itulah yang membuat Bapak Ngurah mantap untuk memilih kingkong sebagai ikon
di kolam renangnya.
Selain
ikon kingkong yang menarik, kolam renang ini memiliki sesuatu yang ditonjolkan
dan dapat langsung dirasakan oleh pengunjung. Hal itu adalah kebersihannya. Memang, masyarakat
menghendaki kebersihan di setiap tempat
pariwisata. Tapi, tak semua tempat dapat menyediakan kenyamanan tersebut.
| Simbol Kingkong yang ada di depan pintu masuk
Kolam Renang Kingkong dikeonsep dengan tujuan untuk menghibur anak-anak teruatama usia dibawah 12 tahun. Aksesoris serta patung yang terpajang diluar merupakan lengseran dari restoran Puri Manyar yang pernah digelutinya.
Saya bersama narasumber, Bapak I Ngurah Putu Sudelta
|
|||
Selasa, 02 September 2014
Keledai dan Sumur
Alkisah ada seekor keledai milik
seorang petani yang jatuh terperosok ke dalam sumur. Hewan itu menangis pilu
berjam-jam, sementara si penati memikirkan apa yang harus dilakukan. Akhirnya,
ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur tersebut harus ditimbun
karena berbahaya. Kemudian si petani
mengajak para warga untuk membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menimbun
sumur itu. Mulanya, ketika si kedelai menyadari apa yang terjadi, ia menangis
ketakutan akan kematian yang akan menghampirinya. Namun lama-lama, si keledai
diam dan tenang daripada sebelumnya. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke
dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang
dilihatnya.
Ternyata keledai itu
mengguncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun kebawah, lalu
menaiki tanah itu. Sementara warga terus menuangkan tanah ke atas punggung
hewan itu, keledai pun juga terus mengguncangkan tubuhnya dan melangkah naik.
Saat tanah sudah hampir memenuhi sumur, si keledai meloncati tepi sumur lalu
berlari bebas penuh kesenangan.
Kawan, layaknya keledai tersebut
kita merasakan bahwa kehidupan terus saja menuangkan tanah (masalah) kepada
kita. Namun hanya ada satu cara untuk keluar dari ‘sumur’ kesedihan itu. Yaitu
dengan mengguncangkan tanah dari diri kita dan melangkah naik dari ‘sumur’
dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah merupakan batu
pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan
terus berjuang, jangan pernah menyerah!
Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan :
1.
Bebaskan dirimu dari kebencian
2.
Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3.
Hiduplah sederhana
4.
Berilah lebih banyak
5.
Tersenyumlah
6.
Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum
Langganan:
Komentar (Atom)






















.jpg)
