Sabtu, 20 September 2014

The Deaf Frog



Alkisah di negeri katak diadakan sebuah sayembara. Barang siapa mampu memanjat  sebuah menara yang tinggi di tengah kota akan mendapatkan sekantong uang emas. Semua katak muda di negeri itu bersemangat untuk memenangkan sayembara, termasuk katak kecil yang hidup di pinggiran negeri itu. Begitu si katak kecil datang ke perlombaan, semua katak tertawa mengejek. Apalagi saingannya adalah katak bertubuh kekar, sedangkan ia amatlah kurus. Namun, si katak kecil hanya tersenyum dan membulatkan tekad untuk mengikuti sayembara itu
Akhirnya perlombaan dimulai. Baru beberapa meter menanjak, beberapa katak jatuh. Katak yang lain memerhatikan katak yang jatuh tadi dengan pandangan ngeri. Mereka baru sadar, bahwa kemampuan mereka sebagai katak adalah melompat bukan memanjat. Satu persatu katak jatuh, dan hanya tersisa 3 katak, termasuk katak kecil itu.
“Puncak menara itu sangat tinggi. Mustahil kalian dapat mencapainya”, teriak penonton. Katak yang telah jatuh pun ikut berteriak “dari ketinggian 3 meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi dari ketinggian 15 meter. Pasti tulang-tulangmu remuk!” Seekor katak yang masih memanjat mulai khawatir. Ketika melongok ke bawah, ia sadar ternyata memang tinggi sekali menara itu. Akhirnya ia pun mengundurkan diri.
Tinggal dua katak yang masih bertahan, termasuk si katak kecil. “Hati-hati, di atas sana licin, kamu pasti terpeleset”, lagi-lagi teriakan penonton. Teriakan tersebut membuat saingan si katak kecil berpikir “licin? Aduh, bagaimana kalau aku jatuh nanti?”. Akhirnya saingan si katak kecil mengundurkan diri.
Tinggal katak kecil seorang diri. “Katak kecil, di atas licin, kamu pasti jatuh”, suara lain menimpali “iya menyerah saja. Angin di atas berhembus sangat kencang, kamu pasti terbang terbawa angin”. Katak kecil tak peduli dan terus saja memanjat. Dan, hap, katak kecil sampai di menara tersebut. Suara penonton mulai menyorakinya “Ya Tuhan...... ia berhasil”. Saat katak kecil turun, penonton mengerubunginya dan bertanya-tanya bagaimana bisa ia berhasil. Ketika katak kecil diam saja, ibu katak kecil ini berkata “Katak kecil ini tuli. Ia bisa sampai di puncak karena tidak mendengar ucapan-ucapan kalian yang melemahkan semangatnya. Ia bisa terus memanjat karena ia hanya mendengarkan suara hatinya dan konsisten pada tujuan yang ingin dicapainya”.

Insight : cerita di atas menginspirasi bahwa dalam setiap perjalanan kita meraih impian, akan selalu ada orang-orang di sekitar kita yang mencemooh, mencela, bahkan secara langsung mencegah kita meraih impian. Mungkin tujuan mereka baik, misalnya tidak ingin kita mengalami kesengsaraan atau kegagalan. Namun ada juga yang sengaja mencegah kita meraih impian, karena dalam hatinya ada rasa iri jika ada orang lain yang lebih berhasil dibandng mereka. Orang-orang iri tersebut pada dasarnya puas dengan kondisi mereka dan tidak mau berusaha untuk lebih baik lagi.

Jumat, 19 September 2014

Fakta Dibalik "Kingkong"

Fakta Dibalik “Kingkong”
Kingkong. Mungkin semua masyarakat sudah tahu dan mengenal hewan bertubuh besar sebangsa kera ini. K epopulerannya semakin melesat setelah kera besar ini menjadi tokoh utama pada film ‘Kingkong’.  Tak dipungkiri, film itu berhasil menyedot berjuta pasang mata di seluruh penjuru dunia. Melihat fenomena tersebut, Bapak I Ngurah Putu Sudelta memiliki pemikiran untuk membangun tempat pariwisata dengan ikon utamanya kingkong. Dengan segala pertimbangan dan pemikiran, akhirnya beliau memutuskan untuk membangun rekreasi keluarga “Kolam Renang Kingkong.”
“Menurut saya, kolam renang di Pandaan sudah terlalu banyak. Ada sekitar 6 kolam renang yang saya tahu. Karangjati, Sangar, Durensewu, Sebani I, Sebani II, dan Kurma Asri.” Ujar lelaki 68 tahun itu. “Tetapi, keenamnya memiliki akses jalan yang kurang strategis. Kita harus masuk melewati perkampungan dengan jalan minim. Mobil pun juga akan kesulitan kalau harus melewati jalan sempit.” Lanjutnya.
Berbicara soal kingkong, Bapak Ngurah ternyata memiliki beberapa alasan mengapa makhluk besar ini dijadikan sebagai simbol usahanya. Menurutnya, kingkong sudah tak asing lagi didengar oleh telinga masyarakat. Anak kecil pun langsung berteriak ‘kingkong’ saat melihat patung besar di pinggir jalan. Selain itu, film ‘Kingkong’ yang ditayangkan di televisi bertepatan dengan Hari Raya Nyepi yang identik dengan ogok-ogok. Menurut kepercayaan orang Hindu, ogok-ogok diibaratkan sebagai sesuatu yang menakutkan atau sebagai simbol kejahatan. Jadi, sebelum Nyepi, ogok-ogok tersebut harus dimusnahkan terlebih dahulu. Untuk memusnahkan ogok-ogok diperlukan makhluk besar perkasa. Itulah yang membuat Bapak Ngurah mantap untuk memilih kingkong sebagai ikon di kolam renangnya.
Selain ikon kingkong yang menarik, kolam renang ini memiliki sesuatu yang ditonjolkan dan dapat langsung dirasakan oleh pengunjung. Hal itu adalah kebersihannya. Memang, masyarakat menghendaki kebersihan di setiap tempat pariwisata. Tapi, tak semua tempat dapat menyediakan kenyamanan tersebut.


Simbol Kingkong yang ada di depan pintu masuk

Kolam Renang Kingkong dikeonsep dengan tujuan untuk menghibur anak-anak teruatama usia dibawah 12 tahun. Aksesoris serta patung yang terpajang diluar merupakan lengseran dari restoran Puri Manyar yang pernah digelutinya.

Saya bersama narasumber, Bapak I Ngurah Putu Sudelta



 










            
           








 




Selasa, 02 September 2014

Keledai dan Sumur


Alkisah ada seekor keledai milik seorang petani yang jatuh terperosok ke dalam sumur. Hewan itu menangis pilu berjam-jam, sementara si penati memikirkan apa yang harus dilakukan. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur tersebut harus ditimbun karena berbahaya.  Kemudian si petani mengajak para warga untuk membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menimbun sumur itu. Mulanya, ketika si kedelai menyadari apa yang terjadi, ia menangis ketakutan akan kematian yang akan menghampirinya. Namun lama-lama, si keledai diam dan tenang daripada sebelumnya. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata keledai itu mengguncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun kebawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara warga terus menuangkan tanah ke atas punggung hewan itu, keledai pun juga terus mengguncangkan tubuhnya dan melangkah naik. Saat tanah sudah hampir memenuhi sumur, si keledai meloncati tepi sumur lalu berlari bebas penuh kesenangan.
Kawan, layaknya keledai tersebut kita merasakan bahwa kehidupan terus saja menuangkan tanah (masalah) kepada kita. Namun hanya ada satu cara untuk keluar dari ‘sumur’ kesedihan itu. Yaitu dengan mengguncangkan tanah dari diri kita dan melangkah naik dari ‘sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah merupakan batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah!
Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan :
1.       Bebaskan dirimu dari kebencian
2.       Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3.       Hiduplah sederhana
4.       Berilah lebih banyak
5.       Tersenyumlah
6.       Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum

Jumat, 07 Februari 2014

Guru, Murid. Manakah yang Lebih Pintar?



            Pintar, kata yang menggambarkan tentang kecerdasan seseorang dalam menguasai bidang studi atau pun hal lain. Pintar ini identik dengan kemampuan seseorang yang lebih menonjol dibandingkan dengan orang lain. Tak sedikit orang yang menganggap dirinya pintar dalam suatu bidang. Kita ambil contoh yang paling mudah, yaitu guru. Guru adalah seorang pendidik yang mengajarkan ilmu dalam bidang yang berbeda-beda sesuai dengan keahliannya masing-masing. Guru yang ahli dalam bidang matematika, pasti akan mengajar matematika, tidak mungkin kalau mengajar IPS. Begitupun dengan guru-guru yang lain.
            Di dalam lingkup sekolah, ada banyak sekali materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa. Hampir 11 mata pelajaran dijejalkan kedalam otak murid. Mulai dari pelajaran enteng sampai pelajaran yang berat semua harus masuk ke otak. Tak jarang guru mengeluh karena nilai murid yang anjlok. Mereka terkadang jengkel dan sedikit meluapkan emosi kepada si murid. Masih baik kalau murid tersebut menanggapi kemarahan gurunya dengan positif dan membuatnya semakin rajin belajar. Yang buruk, saat murid tersebut malah lebih jengkel dan sebal kepada guru yang memarahinya dan membuatnya semakin malas untuk mendalami pelajaran tersebut. Kalau sudah begini siapa yang harus disalahkan? Guru atau kah murid?
            Dalam hal ini tak ada pihak yang salah. Murid dan guru hanya terperangkap dalam situasi yang kurang baik dan dibarengi dengan emosi yang tidak stabil. Itulah yang membuat kedua pihak saling “berseteru batin” satu sama lain. Keadaan seperti ini tidak baik jika terus dibiarkan. Karena dapat membuat murid lebih malas belajar dan guru pun malas untuk mengajar karena muridnya selalu tidak mengerti. Maka sebaiknya permasalahan tersebut dibicarakan dengan baik. Duduk dengan tenang dan saling mengutarakan pikiran yang selama ini menjadi beban. Insyaallah dengan begitu komunikasi antara guru dan murid akan lebih terjaga.
           Disamping itu, kadang terlintas dalam pikiran kita sebenarnya siapa sih yang pintar? Guru atau murid? Pasti banyak diantara kita akan memilih guru lah yang lebih pintar dari murid. Tentu, karena guru yang mengajarkan kita berbagai hal. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dari yang tidak bisa menjadi bisa. Namun, pernahkah kita memikirkan bahwa guru hanya mengajarkan 1 materi yang ia kuasai dan belum tentu menguasai materi yang lain.  Sedangkan murid mampu memasukkan beberapa materi kedalam otaknya. Walau tak semua materi bisa dihafal. Tapi, bagaimana dengan anak yang menjadi juara kelas? Bukankah nilai anak tersebut lebih tinggi dibanding anak-anak lain? Dan bukankah itu berarti kalau anak tersebut manguasai dengan baik materi yang disampaikan guru? Kalau sudah tercetus realita seacam itu, akan terulang pula pertanyaan ini “Guru, murid. Siapakah yang Lebih Pintar?” Jawaban itu tergantung pada diri kita masing-masing, bagaimana menanggapi akan hal tersebut. Jadi, semua jawaban tergantung pada penglihatan kita.

NB : tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung atau memihak pada siapun. Ini hanyalah karangan yang dibuat oleh saya (pelajar) yang memiliki pertanyaan sangat luas tentang dunia pendidikan. Jadi, saya mohon untuk menanggapi tulisan ini dengan positif. Terima kasih.

Kamis, 06 Februari 2014

Vespa Sang Kyai



          Menjalani hari-hari sebagai ketua KDI di organisasi IPM, adalah suatu kebanggan untuk siswa satu ini. Muhammad Sajidin Nur, salah satu murid SMK yang memiliki potensi besar dalam dakwah dan menulis. Memiliki aktivitas banyak tentu memerlukan kendaraan untuk berwira-wiri dari satu tempat ke tempat lain. Itulah yang membuat siswa bertubuh semampai dengan kulit eksotis alias sawo matang ini memutuskan untuk membawa kendaraan bermotor roda 2 keluaran tahun 60-an. Sajidin membawa vespa berwarna hitam dengan bunyi “nggreng nggreng.. otok otok” .  Dengan vespa hitam kesayangannya itulah Sajidin menyusuri jalan yang padat dengan asap dan debu.
          Seolah tak perduli dengan kicauan orang-orang, Sajidin tidak malu untuk membawa vespanya ke sekolah. Ia percaya diri, bangga, karena memiliki vespa yang sejatinya adalah barang antik dan tak semua orang memilikinya. Tak jarang vespa Sajidin sedikit macet ketika dipakai dijalanan yang sedikit menanjak. Sehingga perlu bantuan salah seorang guru untuk mengendarainya.
          Lepas dari itu semua, Sajidin juga sering menorehkan namanya pada sebuah Piagam atau Sertifikat karena prestasinya. Ia pernah menjadi juara 1 lomba Jurnalistik se-Jawa Timur, menjadi juara 2 di kelas, mengikuti lomba blog nasional, mengikuti lomba baca Al-Qur’an, dll. Ia juga merupakan seorang pemimpin di beberapa organisasi, seperti Ketua KDI (Kajian Dakwah Islam) di IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) tingkat Cabang dan Ranting, menjadi wakil ketua kelas, dll.
Usut punya usut, ternyata tak hanya Sajidin saja yang pernah memakai vespa. Salah satu guru (sebut saja Si Profesor) ternyata pernah memiliki vespa. Vespa tersebut merupakan saksi bisu perjalanannya menitih pendidikan S1 psikologi. Bisa dibayangkan, anak kuliahan memakai vespa, itu merupakan hal aneh yang tak semua orang bisa lakukan. Namun, apakah hanya karena vespa, Si Profesor tak bisa merampungkan S1 nya? Tidak! Profesor bisa menyelesaikan S1 nya dengan baik. Malah sekarang sudah menjadi Master dan rencananya akan melanjutkan studi S3.
          Sosok vespa yang dianggap sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata memiliki saksi sejarah bagi orang-orang tertentu. Contohnya seperti Sajidin dan Si Profesor. Mereka menomor satukan pendidikan dan mekesampingkan apa kata orang. Mereka tak peduli orang mau ngomong apa, terserah. Yang penting saya bisa, saya berprestasi, memiliki pendidikan tinggi, dan menjadi orang yang selalu baru untuk kehidupan yang baru.

Selasa, 04 Februari 2014





UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI USAHA BUBUT
DI UD. KARYA SANTOSA DESA TAWANGREJO
KECAMATAN PANDAAN KABUPATEN PASURUAN

Karya Tulis Ilmiah

 

 






Oleh :
Aruni Amalia Syarifah



SMK MUHAMMADIYAH PANDAAN
KOMPETENSI KEAHLIAN ANALIS KESEHATAN
2013

 







BAB I
PENDAHULUAN
Permasalahan tentang pengangguran merupakan permasalahan yang tampaknya sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Ini dikarenakan masalah pengangguran sendiri dari hari ke hari semakin meningkat sejak masa krisis global yang melanda Indonesia yang menyebabkan banyak perusahaan ‘gulung tikar’ dan memutuskan untuk mengurangi sejumlah karyawannya.
Permasalahan pengangguran juga merupakan permasalahan yang cukup serius bagi banyak negara di dunia, bahkan hampir semua negara mengalami permasalahan tentang pengangguran. Menjadi seorang pengangguran sendiri dapat mengakibatkan banyak hal negatif bagi seseorang, baik dalam dirinya  sendiri maupun di dalam kelompok sosialnya.
Seseorang yang menganggur akan cenderung mengalami depresi dalam dirinya karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya akibat dari keadaan keuangan yang tidak memungkinkan. Seorang pengangguran cenderung melakukan hal yang negatif yaitu melakukan tindakan kriminalitas seperti mencuri, menjambret, menipu, dan lain sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ekonomi Kreatif dalam hubungannya dengan Industri Kreatif adalah kegiatan ekonomi yang mencakup industri dengan kreativitas sumber daya manusia sebagai aset utama untuk menciptakan nilai tambah ekonomi. Ekonomi Kreatif akan menjadi trend ekonomi dunia dalam beberapa tahun mendatang. Sebagaimana yang dilansir pada PU-net (15 September 2013) Stagnasi pertumbuhan ekonomi dan degradasi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, mendorong seluruh dunia untuk lebih mengedepankan kreativitas dalam berkehidupan ekonomi yang memaksimalkan nilai tambah dari suatu produk barang dan jasa dalam rangka keberlanjutan kehidupan dan peradaban manusia. Indonesia dengan berbagai potensi yang dimiliki harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan trend ekonomi dunia tersebut. Untuk itu, Pemerintah melalui intruksi Presiden No. 6 Tahun 2009 (Inpres 6/2009) tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif telah mencoba mempersiapkan diri dengan mengkoordinir seluruh struktur pemerintahan yang ada untuk secara bersama-sama menyusun dan melaksanakan rencana aksi pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.
Saat ini angka kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Pasuruan semakin banyak. Hampir semua perusahaan yang sudah lama menjalankan produksinya pada akhirnya berhenti beroperasi karena mengalami ketidakseimbangan antara pemasukan dengan biaya pengeluaran. Oleh karena itu,  banyak perusahaan yang  pada akhirnya melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada karyawan. Hal itu semakin memperburuk keadaan ekonomi kerakyatan di Indonesia khususnya di Kabupaten Pasuruan.
Meningkatnya angka pengangguran di Pasuruan mengindikasikan menipisnya angka kemampuan dan penurunan daya beli yang dimiliki masyarakat. Padahal, di Pasuruan sedikitnya 1.300 macam perusahaan asing dan lokal serta ribuan usaha kecil menengah (UKM) berdiri berdampingan (www.jurnalnusantara.blogspot, Angka kemiskinan yang selalu dijawab turun, 19 Agustus 2010). Maka dalam kasus ini sangat tepat ketika ekonomi kreatif mulai disosialisasikan melalui berbagai program yang berkelanjutan dan menghasilkan industri kreatif yang nyata.
Data BPS tahun 2011 menyebutkan bahwa angka pengangguran di Kabupaten Pasuruan mencapai 4,83 capaian Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Artinya pengangguran di Pasuruan masih relatif banyak. Sehingga dari fakta ini pemerintah Kabupaten Pasuruan harus berupaya secara optimal untuk menurunkan kembali angka pengangguran saat ini.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil rumusan masalah yaitu bagaimana upaya memberdayakan masyarakat melalui gerakan ekonomi kreatif di Kabupaten Pasuruan ?
Dalam karya tulis akan digunakan metode studi pustaka dari sumber buku maupun secara online. Adapun teknik penulisan menggunakan pendekatan deskriptif eksploratif. Artinya karya tulis ini akan menyajikan gambaran secara global terkait pengangguran di Indonesia dan mengerucut di Pasuruan. Selain itu tulisan ini juga mengungkap upaya pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi kreatif. Adapun subyek penelitian adalah usaha bubut UD. Karya Santosa yang berada di Desa Tawangrejo Pandaan Kabupaten Pasuruan.
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini yaitu memberikan gambaran, baik kepada pemerintah maupun masyarakat mengenai upaya memberdayakan masyarakat melalui gerakan ekonomi kreatif guna meningkatkan perekonomian daerah. Sedangkan manfaat dari karya tulis ini agar menjadi referensi bagi pemerintah lokal dalam upaya memberdayakan masyarakat menuju Pasuruan yang sejahtera, adil, dan makmur.
BAB II
PEMBAHASAN
Ekonomi Kreatif adalah sebuah konsep yang menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi. Konsep ini telah memicu ketertarikan berbagai negara untuk melakukan kajian seputar Ekonomi Kreatif dan menjadikan Ekonomi Kreatif model utama pengembangan ekonomi. Dalam hal ini, usaha bubut yang ada di Desa Tawangrejo Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan bisa disebut sebagai ekonomi kreatif karena telah memberdayakan masyarakat sekitar sehingga sedikit mengurangi angka pengangguran.
Ekonomi kreatif atau bisa juga disebut dengan industri kreatif, dipandang semakin penting dalam mendukung kesejahteraan dalam perekonomian. Berbagai pihak berpendapat bahwa kreativitas manusia adalah sumber daya ekonomi utama dan industri abad kedua puluh satu akan tergantung pada produksi pengetahuan melalui kreativitas dan inovasi. Salah satu Sub-sektor yang merupakan industri berbasis kreativitas di Indonesia berdasarkan pemetaan industri kreatif yang telah dilakukan oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia adalah Kerajinan. Yang dimaksud kerajinan ialah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Produk kerajinan pada umumnya hanya diproduksi dalam jumlah yang relatif kecil (bukan produksi massal). Dalam hal ini usaha bubut UD. Karya Santosa sudah mewakili industri kreatif yang dapat meningkatkan potensi daerah khususnya di Kabupaten Pasuruan.
Hasil interview penulis dengan Bapak Abdullah selaku pemilik sekaligus pengelola usaha bubut “Karya Santosa” menunjukkan bahwa usaha ini telah membantu perekonomian warga lokal guna mengurangi angka pengangguran dan menambah kesejahteraan masyarakat. Usaha kecil ini dapat membantu pemerintah meringankan dalam program mereduksi angka pengangguran dan mengentas kemiskinan.
Proses perekrutan karyawan yang dilakukan bapak Abdullah adalah dengan cara menerima semua kalangan yang mau bekerja di sana. Tercatat mulai dari tingkatan SMK hingga yang sudah berumah tangga bisa bekerja di situ. Hal itu sangat membantu perekonomian di Desa Tawangrejo Pandaan. Selain meningkatkan potensi daerah, usaha ini mampu mengurangi tingkat pengangguran. Kalau mulanya banyak pemuda kampung yang berkeliaran tanpa pekerjaan sehingga memicu tindakan kriminalita, kini sekarang mereka bisa beranjak dari tempat duduknya dan mulai memfungsikan organ-organ tubuhnya untuk bisa menghasilkan perekonomia. Para remaja yang masih duduk di bangku sekolah dahulu sepulang sekolah langsung menancap gas sepeda motor dan berkeliaran di jalanan, sekarang sudah mulai bekerja keras untuk membantu kedua orang tuanya. Uang yang dihasilkan dari bekerja di usaha bubut ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa mengharapkan pemberian dari orang lain. Mereka sudah tidak bergantung sepenuhnya kepada orang tua mereka.
Dari hasil wawancara penulis dengan Bapak Abullah selaku pemilik usaha bubut “Karya Santosa” , ia mengatakan bahwa penghasilan  kotor atau omset dari penjualan besi-besi itu dapat mencapai  Rp.120.000.000,- per bulan. Sementara jumlah produksi besi tidak dapat ditentukan secara pasti dari sisi kuantitas karena penjualannya tergantung dengan pesanan. Usaha kecil yang dikelola oleh keluarga ini terikat kontrak dengan PT. Yanmar. Dari omset Rp.120.000.000,-. Usaha ini mampu mempekerjakan sebanyak 15 karyawan. Sedangkan upah yang dibayarkan kepada karyawan rata-rata Rp.1.500.000,- per karyawan, (belum termasuk lembur). Beban biaya listrik sebesar Rp.1.500.000,- per bulan, biaya operasional Rp.6.000.000,- per bulan, dan pembelian material Rp.45.000.000,-.
Dari keterangan diatas, bisa kita lihat kalau usaha bubut ini dapat menggaji sejumlah karyawan yang relatif besar. Diantara 15 karyawan, 4 orang sudah memiliki istri dan 2 anak. Artinya usaha ini sudah bisa menghidupi 16 individu. Sedangkan untuk karyawan yang masih sekolah maupun yang belum berkeluarga, bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari (uang saku, ditabung, dan lain-lain).
Jika usaha bubut ini mengalami kemerosotan, bahkan kepada tingkatan berhenti beroperasi, maka sejumlah karyawan mungkin akan kehilangan pekerjaan. Kalau terjadi demikian, perekonomian akan semakin menurun dan berakibat pada banyaknya jumlah pengangguran. Ketika banyak pengangguran, peluang tindakan kriminalitas juga akan terbuka lebar. Maka tatkala usaha ini berkembang, tentu akan membutuhkan lebih banyak karyawan, yang artinya dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan perekonomian warga lokal.
Masyarakat tidak perlu lagi berbondong-bondong pergi ke luar negeri hanya untuk menjadi TKI/TKW demi menghidupi keluarga yang ada di daerah asal.  Melalui ekonomi kreatif ini, masyarakat diharapkan mampu membuka usaha kecil menengah (berdasarkan sub-sektor ekonomi kreatif) agar dapat membantu perekonomian masyarakat maupun keluarga.
Dari usaha kecil semacam ini ternyata bisa membantu perekonomian warga sekitar. tantangannya adalah bagaimana usaha kecil ini dikembangkan menjadi usaha yang relatif besar dengan memperbanyak jaringan kerja dengan instansi atau perusahaan manapun sehingga secara otomatis dapat merekrut karyawan lokal lebih banyak lagi.
Demikian juga ketika ada salah satu masyarakat yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang belum bekerja. Dalam hal ini tidak berhenti sebatas pada usaha bubut, melainkan kita membuat usaha kerajinan yang lain (selain besi) dari bahan bekas. Kaleng bekas yang masih bagus, kita buat menjadi celengan atau tempat pensil. Kita hanya perlu mengecatnya dengan cat yang berwarna warni, lalu ditambahkan stiker lucu yang dapat memikat hati anak kecil. Pendapatan dari hasil penjualan itu bisa untuk menghidupi keluarga. Bahkan untuk membuat celengan dan tempat pensil yang perlu kita beli hanya cat dan stiker. Jadi modal yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Dan mendapatkan hasil yang luar biasa.
Oleh karena itu, program ekonomi kreatif sangatlah perlu didukung oleh semua pihak dalam upaya meningkatkan potensi perekonomian daerah, khususnya di Kabupaten Pasuruan.
BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.  Masyarakat Kabupaten Pasuruan akan terbebas dari pengangguran dan kemiskinan jika pemerintah setempat turut berpartisipasi penuh dalam upaya mewujudkan ekonomi kreatif, dalam hal ini dalam melalui usaha bubut UD. Karya Santosa.
2.  Pemerintah diharapkan mengadakan sosialisasi secara merata kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Pasuruan terkait program ekonomi kreatif.
3. Masyarakat diharapkan mampu menciptakan usaha kecil apapun yang pada akhirnya dapat mengangkat perekonomian daerah, terlebih dengan mempekerjakan warga disekitarnya.
4. Pemerintah diharapkan memberikan bantuan modal kepada usaha-usaha kecil menengah  yang sudah berdiri di Pasuruan sekaligus terus melakukan pemantauan perkembangan usaha secara simultan agar usaha tersebut bisa lebih berkembang.
5. Pemerintah diharapkan ikut serta dalam mempromosikan usaha kecil menengah yang ada di Pasuruan guna memajukan usaha yang sudah beroperasi dan berkembang di masyarakat.







DAFTAR PUSTAKA

1. Situs Resmi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
2. Blogdetik.Com, diakses tanggal 14 September 2013.
3. Howkins,John,The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, Penguin.
4. Definisi Industri Kreatif, Indonesia Kreatif.Wikipedia Indonesia.
5. DCMS (2001), Creative Industries Mapping Document 2001 (2 ed.), London, UK: Department of Culture, Media and Sport.