Jumat, 10 Januari 2014

Hari Gini Masih Galau?? Gak Layauu??



Hari Gini Masih Galau? Gak Layauu?
          Entah siapa yang mulai, entah kapan semuanya dimulai. Tiba-tiba GALAU ini jadi eksis banget. Penyebab galau bagi masing-masing orang itu pasti beda. Tapi yang pasti semua orang pernah galau. Dari presiden, ustadz, kaum alay, sampai tukang becak. Dari yang cantik, sampai yang….ehmm,, bisa dibilang lekong, dari bayi, sampai nenek-nenek. Dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai ke seluruh dunia.
          Galau ini banyak diartikan sebagai simbol kesedihan. Padahal, kalau kita selidiki lagi di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tidak ada yang namanya “Galau”. Sedih ya sedih aja, gak ada yang namanya galau. Bagi remaja, penyebab galau adalah diputusin pacar, cinta bertepuk sebelah tangan, kalo enggak ya di PHP-in, alias Pemberi Harapan Palsu. Kalau sudah terena 3 faktor diatas, pasti bertindak yang aneh-aneh. Mulai dari masuk kamar lalu menutup pintu dengan keras, menjatuhkan diri di kasur, nangis, sambil ndengerin lagu melow.
          Lantas, apakah kalau sudah melakukan hal diatas membuat keadaan membaik?? Apakah semua itu akan mewujudkan cita-citamu untuk bersanding dengan idamanmu?? Belum tentu kan?? Lalu, kenapa kita sampai menguras air mata untuk seseorang yang tidak pernah memikirkanmu bahkan memperhatikanmu. Kenapa kamu rela matamu bengkak demi membuktikan kepadanya kalau kamu sangat tak sanggup kehilangannya. Apakah dia akan iba lalu ber-Empati denganmu?? Tentu saja jawabannya “TIDAK”..!! Tak seharusnya kamu melakukan hal itu dan melupakan kewajibanmu seperti, ibadah, belajar, membantu orang tua, dll.
         
  
 Jika kita berpikir lebih dalam lagi, sebenarnya apa sih untungnya galau,,?? Dapatkah kalian menjawabnya?? Kalian pasti baru memikirkan hal itu sekarang. Sebenarnya, galau itu sama sekali tidak bermanfaat. Bahkan 0,0000000000001% pun tak ada manfaatnya. Galau hanya menghipnotis pikiran kita untuk terus memikirkan seseorang yang bahkan tak sedetik pun memikirkan kita. Sehingga kita dibuat seolah ling-lung dan melupakan kesenangan di dalam hidup kita. Seseorang yang menghabiskan masa remajanya hanya untuk menangisi seseorang yang tak pernah memperdulikannya, adalah remaja yang MERUGI. Karena apa?  Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, masa paling indah, dan masa ter-ekstrim. Kenapa dibilang ekstrim?? Karena, pada masa ini, emosi seseorang kadang tidak terkontrol. Jika seorang remaja tak dapat mengendalikan emosinya, maka akan terjerumuslah ia pada jurang permasalahan. Mengapa? Zaman sekarang banyak remaja yang pensiun dini dari kehidupannya dengan cara bunuh diri. Dan kalau diselidiki, banyak remaja yang bunuh diri karena DIPUTUSIN PACAR.

          Sungguh disayangkan, mereka melewatkan masa depan yang mungkin lebih baik dan lebih indah dari kehidupannya sekarang. Makanya, jika tidak mau galau, janganlah terlalu mencintai seseorang. Karena bisa saja ia menyakitimu. Satu-satunya yang tidak akan menyakitimu ketika kamu mencintai adalah ALLAH.





Tak Perlu Takut Kehabisan Stok Jodoh




Tak Perlu Takut Kehabisan Stok Jodoh

          Takut, merupakan kata yang menggambarkan akan kecemasan seseorang menghadapi sesuatu. Ketakutan yang paling sering memenuhi perasaan sesorang adalah takut tidak memiliki jodoh. Apalagi bagi para penyandang gelar jomblo sejati. Pasti mereka tak bisa tidur 7 hari 7 malam karena memikirkan hal itu. Mereka takut kehabisan stok! Yaelah brooo..!! Tuhan itu adil! Kita diciptakan di dunia ini penuh dengan perbedaan, dan pastinya memiliki pasangan untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Ibaratnya, kalau ada baju pasti ada celana/rok. Nggak mungkin kan sesorang memakai baju tanpa celana, atau celana tanpa baju?
Kalau kita baca lagi, di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

Aritnya : “Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan.” (Q.S An-Naba’ : 8)

          Dari firman diatas, dapat kita tarik benang merahnya. Bahwa, seluruh isi di dunia ini diciptakan berpasangan untuk menutupi kekurangan satu sama lain. Karena seluruh makhluk di dunia ini tak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.
         
          Setelah membaca sekilas info diatas, kita akan sadar dan mengerti bahwa setiap benda, makhluk, pasti memiliki pasangan. Maka dari itu, janganlah takut kehabisan stok jodoh. Tuhan akan mengirimkannya padamu di hari, tanggal, bulan, dan tahun yang lain. Dan ingat satu pesan sederhana ini “perempuan baik untuk laki-laki baik, dan sebaliknya. Perempuan buruk untuk laki-laki buruk, dan sebaliknya.”



 


Kata-kata mutiara :
Terkadang cintamu pada sesorang tidak berlabuh, itu karena Allah masih menyimpan dirimu untuk diberikan kepada sesorang yang lebih baik dari orang yang kamu anggap baik.
 

Tak Selamanya Indah


Tak Selamanya Indah
Pagi ini, kubuka mataku untuk yang kesekian kali dan sudah aku lakukan selama 16 tahun. Pagi yang cerah dengan kilauan matahari yang mengusikku dari tidur, membuatku terbangun dari alam khayalku. Memandang ke arah pintu sambil mendengarkan suara-suara yang mencekik leherku, membuatku meneteskan air mata. Memandangi langit-langit kamar, seraya berdoa “Tuhan, haruskah aku selalu mendengar suara yang membuatku terasa seperti kehilangan harapan?? Haruskah aku mendengarnya sepanjang hidupku?? Haruskah pagiku disambut oleh hal-hal yang tak aku sukai??” Bibirku bergetar, mataku menangis, batinku menjerit. “Tuhan, mengapa rumah sebesar dan seindah ini tak dapat secerah matahari di atas sana??” ujarku lirih dengan hati penuh harapan. Beranjak dari tempat tidur, aku langsung mengambil handuk dan langsung mandi bersiap untuk ke sekolah.
“Duk, duk, duk.” Suara langkah kakiku menuruni anak tangga perlahan. Belum sampai lantai bawah, langkahku terhenti. Mendengarkan apa yang sedang terjadi.
“Ayah, aku mau bicara. Dengarkan aku dulu! Masak kita harus pindah lagi karena kerjaan ayah. Bagaimana dengan sekolahnya anak-anak?? Kasihan mereka, harus beradaptasi lagi.” Ujar Bunda sambil menyiapkan makanan di atas meja.
“Bunda, ini tuntutan pekerjaan. Ayah juga gak bisa nolak gitu aja dong.” Sahut ayah, seraya duduk dan memakai dasi.
“Ayah, Bunda.” Kataku sambil meneruskan langkah kakiku yang sempat terhenti.
“Iya, Rin??” jawab ayah dan bunda bersamaan.
“Bisa nggak kalian gak ribut setiap pagi. Telingaku panas setiap kali denger kalian bertengkar. Aku butuh suasana damai di rumah ini.” Kataku dengan suara manja.
“Maafkan ayah, Rini.” Jawab ayah sambil memegang kepalaku.
“Maafkan Bunda ya, Nak..” sahut Bunda.
“Hhmm.. Aku hanya mau ayah dan bunda akur. Aku ingin tenang, Yah, Bun.”
“Iya, Nak. Bunda akan berusaha demi kamu.”
“Terimakasih, Bun.”
Percakapan pagi itu terhenti saat aku berangkat sekolah dengan Ayah. Memakai seragam rapi, dan membawa tas penuh dengan buku. Tak lupa kucium tangan dan pipi Bunda penuh kasih sayang. Melambaikan tangan seraya mengucapkan “Aku berangkat, Bun. Assalamualaikum..”
Kejadian hari itu pun membuatku sangat menderita. Pertengkaran yang terjadi antara kedua orangtuaku tak kunjung mereda. Setiap hari, pertengkaran mereka malah semakin menjadi. Aku sampai heran, tak bosankah mereka dengan pertikaian ini? Terbuat dari apakah hati mereka? Sampai-sampai tak mau mengalah untuk mengakhiri pertengkaran.
Hari-hariku tetap menjadi hari yang menyebalkan. Tak ada satu senyum pun yang terukir dari wajahku ketika dirumah. Aku sumpek! Dari bangun sampai mataku terpejam, tak 1 detik pun terlewatkan pertengkaran antara mereka berdua. Aku capek, bosan! Setiap kali aku pulang ke rumah, tak pernah kudapati kedamaian di sana. Kata orang, rumah penuh dengan kedamaian. Tapi apa? Rumah seperti istana, tapi tak pernah ada rasa kekeluargaan, rasa saling mengasihi. Lalu, apa gunanya rumah jika tak pernah ada ketenangan disana? Apa hanya sebagai tempat berteduh dari berbagai macam musim? Apa sebagai tempat untuk mandi? Sebagai tempat untuk tidur? Apa hanya itu gunanya punya rumah? Lucu!
Pada suatu malam, sekitar pukul 02.00 dini hari, aku mendengar suara ribut antara Ayah dan Bunda. Tak hanya itu, adik laki-laki ku yang biasanya tidur bersama Ayah Bunda, kini berada di sisiku. Padahal aku yakin, malam itu aku tidur sendiri. Dengan roh yang masih setengah penuh, aku berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Aku sempat shock ketika Ayah berkata “Iya. Memang benar aku selingkuh!”. Tak kusangka! Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar. Mungkin waktu itu aku bermimpi. Beberapa kali aku mencubiti tangan sendiri, dan terasa sakit. Ternyata benar! Aku tak bermimpi! Ini alam nyata! Dan aku harus menerimanya. Aku mencemaskan keutuhan keluarga ini. Akankah mereka bercerai? Atau masih bisa diperbaiki? Aku tak tahu! Aku lalu memejamkan mataku, dan berdoa supaya kejadian malam ini hanyalah imajinasiku saja.
Esok paginya saat aku hendak berangkat sekolah, Bunda mendekatiku seraya berkata “Maafkan Bunda ya, Rin.” Aku memandang mata Bunda dengan tajam. Semakin ku pandang mata indah itu, semakin tak kuasa aku menahan air mata. Aku berpura-pura tak mengetahui kejadian semalam. Kemudian dikecuplah pipi kiri dan kananku olehnya. Dan aku beranjak pergi meninggalkan Bunda, menuntut ilmu.
Aku masih bertanya-tanya akan sesuatu yang kudengar kala itu. Tak salahkah pendengaranku ini? Aku masih memendam sejuta tanya. Aku tak berani berbicara pada Bunda. Aku tak kuasa bila melihat tetsan air mata jatuh membasahi pipi merahnya. Aku tak bisa!
Hari demi hari aku lalui dengan beribu tanya yang mengiringi setiap detak jantungku. Sikap Bunda yang berbeda 1800 dari biasanya. Murung, menangis, dan bungkam, bukanlah Bunda yang aku kenal. Bundaku kini bukan Bunda yang dulu. Cerewet, lucu, banyak bicara. Matanya berubah! Merah dan bengkak! Bukan mata indah yang sipit! Sedangkan ayah. Dia sering marah-marah. Sikapnya pun berubah 1800. Ayah lebih ringan tangan, suka membentak Bunda, aku, juga adik. Terkadang dia juga diam termenung kala aku melihatnya duduk di teras.
Aku tak suka dengan keadaan ini. Keadaan yang tidak aku kenal! Aku bingung harus berbuat apa. Aku tak rela bila keluarga yang terbina sekian lama harus hancur dalam waktu singkat. “Tuhan, apa yang mesti aku lakukan pada saat tak berdaya seperti ini?” ucapku lirih bersamaan dengan jatuhnya air mata. Aku memasrahkan segalnya kepada Sang Kuasa.
Suasana dalam rumah pun berubah semenjak kejadian malam itu. Sepi, sunyi. Tak ada lagi celotehan dari Ayah, Bunda, atau aku. Memang, aku menginginkan kedamaian. Tapi, bukan kedamaian ini yang aku harapkan. Kerukunan, kasih sayang, dan keharmonisan di keluargalah yang aku ingin. Bukan diam seribu bahasa. Bahkan suasana inilah yang paling menyiksaku dibanding ketika Ayah Bunda bertengkar.
Waktu terus berjalan. Suasana rumah tetap seperti itu. Damai tapi tak damai! Sampai pada suatu ketika, ayah memutuskan hal yang membuatku sangat kecewa. Ayah meninggalkanku, Bunda, serta adik. Tak memberi kepastian, apakah bercerai atau tidak. Dia hanya berpesan “Maafkan Ayah, Rin. Ayah harus pergi.” Ternyata, cuma segini sayang Ayah terhadapku? Cuma segini cintanya Ayah padaku? Hingga harus meninggalkan aku!
Semenjak kepergian Ayah malam itu, aku mulai berkesimpulan bahwa Ayahku bukan Ayahku. Ayahku hanyalah status belaka. Hanya tercantum dalam akta, raport, dan ijazah. Ayahku hanya segores tinta hitam diatas kertas. Tidak lebih! Ayah tidak mencintaiku! Aku benci! Aku benci sama Ayah!
Kepergian Ayah sudah 3 bulan lamanya. Tak memberi nafkah bahkan kabar. Saat itulah Bunda memutuskan untuk bercerai dari Ayah secara sepihak. Bunda tidak ingin digantung. Bunda ingin memiliki status yang jelas. Akhirnya, diketoklah palu hakim dan Bunda resmi bercerai dari Ayah.
Kini, aku hidup hanya dengan Bunda dan adik laki-lakiku. Tanpa kehadiran Ayah pun, aku tak masalah. Itu sudah merupakan pilihan Ayah untuk menghilang dari kehidupanku. Toh, aku masih bisa hidup! Kami pun hidup damai dan tentram, seperti kedamaian yang aku impikan.

***TAMAT***

Kamis, 09 Januari 2014

Jomblo, Kutukan atau Takdir??


Jomblo, Kutukan atau Takdir??
          Jomblo, satu kata, 6 huruf, 1 arti yang ramai dibicarakan orang. Bagi sebagian orang, jomblo adalah sesuatu yang memalukan. Karena anggapan mereka, jomblo itu orang yang tidak memiliki jodoh, orang yang tidak menarik, orang yang tidak laku, atau apalah itu. Tapi untuk seorang Aruni, jomblo itu suatu gelar yang istimewa. Dan hanya orang-orang istimewalah yang menyandang gelar tersebut.
          Bagiku, jomblo itu menyenangkan. Karena apa? Kita gak punya ikatan sama siapapun. Mau ngapain aja, sama siapa aja, dimana aja, kita bebas. Bisa pergi kemanapun kita suka, bisa berteman dengan siapa saja yang kita suka, dan bebas dari segala tekanan. Kita bisa menikmati waktu luang untuk mengembangkan bakat, kumpul bareng temen, nambah ilmu, dll. Coba bayangkan kalau kita punya pacar. Pasti ribet banget! Yang nggak boleh inilah, itulah, nggak boleh sama ini, jangan kesini, ahh ribet!
          Bagi orang yang terlalu lama menjomblo dan tidak betah akan kondisi tersebut, orang itu akan berpikir kalau gelar jomblo yang disandangnya merupakan takdir, bencana, atau bahkan kutukan.
Lalu yang menjadi rumusan masalah ialah “Sebenarnya, apa sih jomblo itu? Dan apa makna dari jomblo?”
Jomblo merupakan serangkaian kata dari huruf J-O-M-B-L-O, yang bermakna sendiri, single, bujang, dan tidak memiliki keterikatan dengan seseorang. Kata jomblo sendiri tidak ada di dalam KBBI.  Kata itu hanyalah kata gaul yang dipakai remaja untuk menjuluki teman atau dirinya sendiri yang tidak memiliki pacar. Sebagian orang mendefinisikan jomblo dalam beberapa jenis, diantaranya : jomblo terhormat, jomblo bahagia, jomblo termanis, dan ada juga jomblo mangkrak.
Sebenarnya, jomblo itu tidak ada jenis dan macamnya. Itu hanyalah embel-embel supaya nasib seorang jomblo terkesan tidak terlalu mengenaskan dan terlihat bahagia. Padahal orang yang memberi embel-embel dalam status jomblonya adalah jomblo yang paling menderita. Karena mereka berusaha menutupi kesedihan dan terhindar dari ejekan.
Dalam perspektif islam, tidak ada yang namanya pacaran. Adanya hanya ta’arufan. Itupun sangat bertolak belakang dengan cara pacaran remaja zaman sekarang. Allah juga berfirman :

 Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisaa : 1)

Dari firman diatas, dapat kita ketahui bahwa berpacaran dapat memutus tali silaturahmi. Karena apa? Jika kita pacaran kemudian putus dan keduanya memiliki dendam satu sama lain, itu akan menyebabkan mereka saling membenci. Tidak mau bertemu, tidak bertegur sapa, bahkan tidak mau menyebut namanya. Inilah yang menjadi awal putusnya tali silaturahmi antara keduanya. Maka dari itu, islam melarang pacaran.
Selain itu pula, jika kita pacaran pasti akan menambah dosa karena sudah bermaksiat. Mengapa? Orang berpacaran pasti melakukan hal yang dilarang agama. Seperti, berpegangan tangan, ciuman, dan hal-hal lain yang lebih mengerikan.

Berikut tips-tips agar kita tidak minder ketika jomblo :
1. Yakinlah bahwa jomblo bukan sebuah bencana, kutukan, atau takdir.
2. Yakinlah bahwa jomblo pasti akan mendapatkan jodoh pada waktunya.
3. Jalanilah hari-harimu dengan menebar senyuman.
4. Percayalah bahwa jomblo membawa keberuntungan.
5. Selalu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Demikian bahasan jomblo kali ini. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua. Dan semoga kita menjadi pribadi yang tetap unggul meskipun menjomblo. Sekian terimakasih.