Tak
Selamanya Indah
Pagi
ini, kubuka mataku untuk yang kesekian kali dan sudah aku lakukan selama 16 tahun.
Pagi yang cerah dengan kilauan matahari yang mengusikku dari tidur, membuatku
terbangun dari alam khayalku. Memandang ke arah pintu sambil mendengarkan
suara-suara yang mencekik leherku, membuatku meneteskan air mata. Memandangi
langit-langit kamar, seraya berdoa “Tuhan, haruskah aku selalu mendengar suara
yang membuatku terasa seperti kehilangan harapan?? Haruskah aku mendengarnya
sepanjang hidupku?? Haruskah pagiku disambut oleh hal-hal yang tak aku sukai??”
Bibirku bergetar, mataku menangis, batinku menjerit. “Tuhan, mengapa rumah
sebesar dan seindah ini tak dapat secerah matahari di atas sana??” ujarku lirih
dengan hati penuh harapan. Beranjak dari tempat tidur, aku langsung mengambil
handuk dan langsung mandi bersiap untuk ke sekolah.
“Duk,
duk, duk.” Suara langkah kakiku menuruni anak tangga perlahan. Belum sampai
lantai bawah, langkahku terhenti. Mendengarkan apa yang sedang terjadi.
“Ayah,
aku mau bicara. Dengarkan aku dulu! Masak kita harus pindah lagi karena kerjaan
ayah. Bagaimana dengan sekolahnya anak-anak?? Kasihan mereka, harus beradaptasi
lagi.” Ujar Bunda sambil menyiapkan makanan di atas meja.
“Bunda,
ini tuntutan pekerjaan. Ayah juga gak bisa nolak gitu aja dong.” Sahut ayah,
seraya duduk dan memakai dasi.
“Ayah,
Bunda.” Kataku sambil meneruskan langkah kakiku yang sempat terhenti.
“Iya,
Rin??” jawab ayah dan bunda bersamaan.
“Bisa
nggak kalian gak ribut setiap pagi. Telingaku panas setiap kali denger kalian
bertengkar. Aku butuh suasana damai di rumah ini.” Kataku dengan suara manja.
“Maafkan
ayah, Rini.” Jawab ayah sambil memegang kepalaku.
“Maafkan
Bunda ya, Nak..” sahut Bunda.
“Hhmm..
Aku hanya mau ayah dan bunda akur. Aku ingin tenang, Yah, Bun.”
“Iya,
Nak. Bunda akan berusaha demi kamu.”
“Terimakasih,
Bun.”
Percakapan
pagi itu terhenti saat aku berangkat sekolah dengan Ayah. Memakai seragam rapi,
dan membawa tas penuh dengan buku. Tak lupa kucium tangan dan pipi Bunda penuh
kasih sayang. Melambaikan tangan seraya mengucapkan “Aku berangkat, Bun.
Assalamualaikum..”
Kejadian
hari itu pun membuatku sangat menderita. Pertengkaran yang terjadi antara kedua
orangtuaku tak kunjung mereda. Setiap hari, pertengkaran mereka malah semakin
menjadi. Aku sampai heran, tak bosankah mereka dengan pertikaian ini? Terbuat
dari apakah hati mereka? Sampai-sampai tak mau mengalah untuk mengakhiri
pertengkaran.
Hari-hariku
tetap menjadi hari yang menyebalkan. Tak ada satu senyum pun yang terukir dari
wajahku ketika dirumah. Aku sumpek!
Dari bangun sampai mataku terpejam, tak 1 detik pun terlewatkan pertengkaran
antara mereka berdua. Aku capek, bosan! Setiap kali aku pulang ke rumah, tak
pernah kudapati kedamaian di sana. Kata orang, rumah penuh dengan kedamaian.
Tapi apa? Rumah seperti istana, tapi tak pernah ada rasa kekeluargaan, rasa
saling mengasihi. Lalu, apa gunanya rumah jika tak pernah ada ketenangan
disana? Apa hanya sebagai tempat berteduh dari berbagai macam musim? Apa
sebagai tempat untuk mandi? Sebagai tempat untuk tidur? Apa hanya itu gunanya
punya rumah? Lucu!
Pada
suatu malam, sekitar pukul 02.00 dini hari, aku mendengar suara ribut antara
Ayah dan Bunda. Tak hanya itu, adik laki-laki ku yang biasanya tidur bersama
Ayah Bunda, kini berada di sisiku. Padahal aku yakin, malam itu aku tidur
sendiri. Dengan roh yang masih setengah penuh, aku berusaha mendengarkan apa
yang mereka bicarakan. Aku sempat shock ketika
Ayah berkata “Iya. Memang benar aku selingkuh!”. Tak kusangka! Aku tak percaya
dengan apa yang ku dengar. Mungkin waktu itu aku bermimpi. Beberapa kali aku
mencubiti tangan sendiri, dan terasa sakit. Ternyata benar! Aku tak bermimpi!
Ini alam nyata! Dan aku harus menerimanya. Aku mencemaskan keutuhan keluarga
ini. Akankah mereka bercerai? Atau masih bisa diperbaiki? Aku tak tahu! Aku
lalu memejamkan mataku, dan berdoa supaya kejadian malam ini hanyalah
imajinasiku saja.
Esok
paginya saat aku hendak berangkat sekolah, Bunda mendekatiku seraya berkata
“Maafkan Bunda ya, Rin.” Aku memandang mata Bunda dengan tajam. Semakin ku
pandang mata indah itu, semakin tak kuasa aku menahan air mata. Aku
berpura-pura tak mengetahui kejadian semalam. Kemudian dikecuplah pipi kiri dan
kananku olehnya. Dan aku beranjak pergi meninggalkan Bunda, menuntut ilmu.
Aku
masih bertanya-tanya akan sesuatu yang kudengar kala itu. Tak salahkah
pendengaranku ini? Aku masih memendam sejuta tanya. Aku tak berani berbicara
pada Bunda. Aku tak kuasa bila melihat tetsan air mata jatuh membasahi pipi
merahnya. Aku tak bisa!
Hari
demi hari aku lalui dengan beribu tanya yang mengiringi setiap detak jantungku.
Sikap Bunda yang berbeda 1800 dari biasanya. Murung, menangis, dan
bungkam, bukanlah Bunda yang aku kenal. Bundaku kini bukan Bunda yang dulu.
Cerewet, lucu, banyak bicara. Matanya berubah! Merah dan bengkak! Bukan mata
indah yang sipit! Sedangkan ayah. Dia sering marah-marah. Sikapnya pun berubah
1800. Ayah lebih ringan tangan, suka membentak Bunda, aku, juga
adik. Terkadang dia juga diam termenung kala aku melihatnya duduk di teras.
Aku
tak suka dengan keadaan ini. Keadaan yang tidak aku kenal! Aku bingung harus
berbuat apa. Aku tak rela bila keluarga yang terbina sekian lama harus hancur
dalam waktu singkat. “Tuhan, apa yang mesti aku lakukan pada saat tak berdaya
seperti ini?” ucapku lirih bersamaan dengan jatuhnya air mata. Aku memasrahkan
segalnya kepada Sang Kuasa.
Suasana
dalam rumah pun berubah semenjak kejadian malam itu. Sepi, sunyi. Tak ada lagi
celotehan dari Ayah, Bunda, atau aku. Memang, aku menginginkan kedamaian. Tapi,
bukan kedamaian ini yang aku harapkan. Kerukunan, kasih sayang, dan
keharmonisan di keluargalah yang aku ingin. Bukan diam seribu bahasa. Bahkan
suasana inilah yang paling menyiksaku dibanding ketika Ayah Bunda bertengkar.
Waktu
terus berjalan. Suasana rumah tetap seperti itu. Damai tapi tak damai! Sampai
pada suatu ketika, ayah memutuskan hal yang membuatku sangat kecewa. Ayah
meninggalkanku, Bunda, serta adik. Tak memberi kepastian, apakah bercerai atau
tidak. Dia hanya berpesan “Maafkan Ayah, Rin. Ayah harus pergi.” Ternyata, cuma
segini sayang Ayah terhadapku? Cuma segini cintanya Ayah padaku? Hingga harus
meninggalkan aku!
Semenjak
kepergian Ayah malam itu, aku mulai berkesimpulan bahwa Ayahku bukan Ayahku.
Ayahku hanyalah status belaka. Hanya tercantum dalam akta, raport, dan ijazah.
Ayahku hanya segores tinta hitam diatas kertas. Tidak lebih! Ayah tidak
mencintaiku! Aku benci! Aku benci sama Ayah!
Kepergian
Ayah sudah 3 bulan lamanya. Tak memberi nafkah bahkan kabar. Saat itulah Bunda
memutuskan untuk bercerai dari Ayah secara sepihak. Bunda tidak ingin digantung.
Bunda ingin memiliki status yang jelas. Akhirnya, diketoklah palu hakim dan
Bunda resmi bercerai dari Ayah.
Kini,
aku hidup hanya dengan Bunda dan adik laki-lakiku. Tanpa kehadiran Ayah pun,
aku tak masalah. Itu sudah merupakan pilihan Ayah untuk menghilang dari
kehidupanku. Toh, aku masih bisa hidup! Kami pun hidup damai dan tentram, seperti
kedamaian yang aku impikan.
***TAMAT***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar