Jumat, 10 Januari 2014

Tak Selamanya Indah


Tak Selamanya Indah
Pagi ini, kubuka mataku untuk yang kesekian kali dan sudah aku lakukan selama 16 tahun. Pagi yang cerah dengan kilauan matahari yang mengusikku dari tidur, membuatku terbangun dari alam khayalku. Memandang ke arah pintu sambil mendengarkan suara-suara yang mencekik leherku, membuatku meneteskan air mata. Memandangi langit-langit kamar, seraya berdoa “Tuhan, haruskah aku selalu mendengar suara yang membuatku terasa seperti kehilangan harapan?? Haruskah aku mendengarnya sepanjang hidupku?? Haruskah pagiku disambut oleh hal-hal yang tak aku sukai??” Bibirku bergetar, mataku menangis, batinku menjerit. “Tuhan, mengapa rumah sebesar dan seindah ini tak dapat secerah matahari di atas sana??” ujarku lirih dengan hati penuh harapan. Beranjak dari tempat tidur, aku langsung mengambil handuk dan langsung mandi bersiap untuk ke sekolah.
“Duk, duk, duk.” Suara langkah kakiku menuruni anak tangga perlahan. Belum sampai lantai bawah, langkahku terhenti. Mendengarkan apa yang sedang terjadi.
“Ayah, aku mau bicara. Dengarkan aku dulu! Masak kita harus pindah lagi karena kerjaan ayah. Bagaimana dengan sekolahnya anak-anak?? Kasihan mereka, harus beradaptasi lagi.” Ujar Bunda sambil menyiapkan makanan di atas meja.
“Bunda, ini tuntutan pekerjaan. Ayah juga gak bisa nolak gitu aja dong.” Sahut ayah, seraya duduk dan memakai dasi.
“Ayah, Bunda.” Kataku sambil meneruskan langkah kakiku yang sempat terhenti.
“Iya, Rin??” jawab ayah dan bunda bersamaan.
“Bisa nggak kalian gak ribut setiap pagi. Telingaku panas setiap kali denger kalian bertengkar. Aku butuh suasana damai di rumah ini.” Kataku dengan suara manja.
“Maafkan ayah, Rini.” Jawab ayah sambil memegang kepalaku.
“Maafkan Bunda ya, Nak..” sahut Bunda.
“Hhmm.. Aku hanya mau ayah dan bunda akur. Aku ingin tenang, Yah, Bun.”
“Iya, Nak. Bunda akan berusaha demi kamu.”
“Terimakasih, Bun.”
Percakapan pagi itu terhenti saat aku berangkat sekolah dengan Ayah. Memakai seragam rapi, dan membawa tas penuh dengan buku. Tak lupa kucium tangan dan pipi Bunda penuh kasih sayang. Melambaikan tangan seraya mengucapkan “Aku berangkat, Bun. Assalamualaikum..”
Kejadian hari itu pun membuatku sangat menderita. Pertengkaran yang terjadi antara kedua orangtuaku tak kunjung mereda. Setiap hari, pertengkaran mereka malah semakin menjadi. Aku sampai heran, tak bosankah mereka dengan pertikaian ini? Terbuat dari apakah hati mereka? Sampai-sampai tak mau mengalah untuk mengakhiri pertengkaran.
Hari-hariku tetap menjadi hari yang menyebalkan. Tak ada satu senyum pun yang terukir dari wajahku ketika dirumah. Aku sumpek! Dari bangun sampai mataku terpejam, tak 1 detik pun terlewatkan pertengkaran antara mereka berdua. Aku capek, bosan! Setiap kali aku pulang ke rumah, tak pernah kudapati kedamaian di sana. Kata orang, rumah penuh dengan kedamaian. Tapi apa? Rumah seperti istana, tapi tak pernah ada rasa kekeluargaan, rasa saling mengasihi. Lalu, apa gunanya rumah jika tak pernah ada ketenangan disana? Apa hanya sebagai tempat berteduh dari berbagai macam musim? Apa sebagai tempat untuk mandi? Sebagai tempat untuk tidur? Apa hanya itu gunanya punya rumah? Lucu!
Pada suatu malam, sekitar pukul 02.00 dini hari, aku mendengar suara ribut antara Ayah dan Bunda. Tak hanya itu, adik laki-laki ku yang biasanya tidur bersama Ayah Bunda, kini berada di sisiku. Padahal aku yakin, malam itu aku tidur sendiri. Dengan roh yang masih setengah penuh, aku berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Aku sempat shock ketika Ayah berkata “Iya. Memang benar aku selingkuh!”. Tak kusangka! Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar. Mungkin waktu itu aku bermimpi. Beberapa kali aku mencubiti tangan sendiri, dan terasa sakit. Ternyata benar! Aku tak bermimpi! Ini alam nyata! Dan aku harus menerimanya. Aku mencemaskan keutuhan keluarga ini. Akankah mereka bercerai? Atau masih bisa diperbaiki? Aku tak tahu! Aku lalu memejamkan mataku, dan berdoa supaya kejadian malam ini hanyalah imajinasiku saja.
Esok paginya saat aku hendak berangkat sekolah, Bunda mendekatiku seraya berkata “Maafkan Bunda ya, Rin.” Aku memandang mata Bunda dengan tajam. Semakin ku pandang mata indah itu, semakin tak kuasa aku menahan air mata. Aku berpura-pura tak mengetahui kejadian semalam. Kemudian dikecuplah pipi kiri dan kananku olehnya. Dan aku beranjak pergi meninggalkan Bunda, menuntut ilmu.
Aku masih bertanya-tanya akan sesuatu yang kudengar kala itu. Tak salahkah pendengaranku ini? Aku masih memendam sejuta tanya. Aku tak berani berbicara pada Bunda. Aku tak kuasa bila melihat tetsan air mata jatuh membasahi pipi merahnya. Aku tak bisa!
Hari demi hari aku lalui dengan beribu tanya yang mengiringi setiap detak jantungku. Sikap Bunda yang berbeda 1800 dari biasanya. Murung, menangis, dan bungkam, bukanlah Bunda yang aku kenal. Bundaku kini bukan Bunda yang dulu. Cerewet, lucu, banyak bicara. Matanya berubah! Merah dan bengkak! Bukan mata indah yang sipit! Sedangkan ayah. Dia sering marah-marah. Sikapnya pun berubah 1800. Ayah lebih ringan tangan, suka membentak Bunda, aku, juga adik. Terkadang dia juga diam termenung kala aku melihatnya duduk di teras.
Aku tak suka dengan keadaan ini. Keadaan yang tidak aku kenal! Aku bingung harus berbuat apa. Aku tak rela bila keluarga yang terbina sekian lama harus hancur dalam waktu singkat. “Tuhan, apa yang mesti aku lakukan pada saat tak berdaya seperti ini?” ucapku lirih bersamaan dengan jatuhnya air mata. Aku memasrahkan segalnya kepada Sang Kuasa.
Suasana dalam rumah pun berubah semenjak kejadian malam itu. Sepi, sunyi. Tak ada lagi celotehan dari Ayah, Bunda, atau aku. Memang, aku menginginkan kedamaian. Tapi, bukan kedamaian ini yang aku harapkan. Kerukunan, kasih sayang, dan keharmonisan di keluargalah yang aku ingin. Bukan diam seribu bahasa. Bahkan suasana inilah yang paling menyiksaku dibanding ketika Ayah Bunda bertengkar.
Waktu terus berjalan. Suasana rumah tetap seperti itu. Damai tapi tak damai! Sampai pada suatu ketika, ayah memutuskan hal yang membuatku sangat kecewa. Ayah meninggalkanku, Bunda, serta adik. Tak memberi kepastian, apakah bercerai atau tidak. Dia hanya berpesan “Maafkan Ayah, Rin. Ayah harus pergi.” Ternyata, cuma segini sayang Ayah terhadapku? Cuma segini cintanya Ayah padaku? Hingga harus meninggalkan aku!
Semenjak kepergian Ayah malam itu, aku mulai berkesimpulan bahwa Ayahku bukan Ayahku. Ayahku hanyalah status belaka. Hanya tercantum dalam akta, raport, dan ijazah. Ayahku hanya segores tinta hitam diatas kertas. Tidak lebih! Ayah tidak mencintaiku! Aku benci! Aku benci sama Ayah!
Kepergian Ayah sudah 3 bulan lamanya. Tak memberi nafkah bahkan kabar. Saat itulah Bunda memutuskan untuk bercerai dari Ayah secara sepihak. Bunda tidak ingin digantung. Bunda ingin memiliki status yang jelas. Akhirnya, diketoklah palu hakim dan Bunda resmi bercerai dari Ayah.
Kini, aku hidup hanya dengan Bunda dan adik laki-lakiku. Tanpa kehadiran Ayah pun, aku tak masalah. Itu sudah merupakan pilihan Ayah untuk menghilang dari kehidupanku. Toh, aku masih bisa hidup! Kami pun hidup damai dan tentram, seperti kedamaian yang aku impikan.

***TAMAT***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar