Menjalani
hari-hari sebagai ketua KDI di organisasi IPM, adalah suatu kebanggan untuk siswa
satu ini. Muhammad Sajidin Nur, salah satu murid SMK yang memiliki potensi
besar dalam dakwah dan menulis. Memiliki aktivitas banyak tentu memerlukan
kendaraan untuk berwira-wiri dari satu tempat ke tempat lain. Itulah yang
membuat siswa bertubuh semampai dengan kulit eksotis alias sawo matang ini
memutuskan untuk membawa kendaraan bermotor roda 2 keluaran tahun 60-an. Sajidin
membawa vespa berwarna hitam dengan bunyi “nggreng
nggreng.. otok otok” . Dengan vespa
hitam kesayangannya itulah Sajidin menyusuri jalan yang padat dengan asap dan
debu.
Seolah
tak perduli dengan kicauan orang-orang, Sajidin tidak malu untuk membawa
vespanya ke sekolah. Ia percaya diri, bangga, karena memiliki vespa yang
sejatinya adalah barang antik dan tak semua orang memilikinya. Tak jarang vespa
Sajidin sedikit macet ketika dipakai dijalanan yang sedikit menanjak. Sehingga
perlu bantuan salah seorang guru untuk mengendarainya.
Lepas
dari itu semua, Sajidin juga sering menorehkan namanya pada sebuah Piagam atau
Sertifikat karena prestasinya. Ia pernah menjadi juara 1 lomba Jurnalistik
se-Jawa Timur, menjadi juara 2 di kelas, mengikuti lomba blog nasional,
mengikuti lomba baca Al-Qur’an, dll. Ia juga merupakan seorang pemimpin di
beberapa organisasi, seperti Ketua KDI (Kajian Dakwah Islam) di IPM (Ikatan
Pelajar Muhammadiyah) tingkat Cabang dan Ranting, menjadi wakil ketua kelas,
dll.
Usut
punya usut, ternyata tak hanya Sajidin saja yang pernah memakai vespa. Salah
satu guru (sebut saja Si Profesor) ternyata pernah memiliki vespa. Vespa
tersebut merupakan saksi bisu perjalanannya menitih pendidikan S1 psikologi.
Bisa dibayangkan, anak kuliahan memakai vespa, itu merupakan hal aneh yang tak
semua orang bisa lakukan. Namun, apakah hanya karena vespa, Si Profesor tak
bisa merampungkan S1 nya? Tidak! Profesor bisa menyelesaikan S1 nya dengan
baik. Malah sekarang sudah menjadi Master dan rencananya akan melanjutkan studi
S3.
Sosok
vespa yang dianggap sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata memiliki saksi
sejarah bagi orang-orang tertentu. Contohnya seperti Sajidin dan Si Profesor. Mereka
menomor satukan pendidikan dan mekesampingkan apa kata orang. Mereka tak peduli
orang mau ngomong apa, terserah. Yang penting saya bisa, saya berprestasi,
memiliki pendidikan tinggi, dan menjadi orang yang selalu baru untuk kehidupan
yang baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar