Sabtu, 20 September 2014

The Deaf Frog



Alkisah di negeri katak diadakan sebuah sayembara. Barang siapa mampu memanjat  sebuah menara yang tinggi di tengah kota akan mendapatkan sekantong uang emas. Semua katak muda di negeri itu bersemangat untuk memenangkan sayembara, termasuk katak kecil yang hidup di pinggiran negeri itu. Begitu si katak kecil datang ke perlombaan, semua katak tertawa mengejek. Apalagi saingannya adalah katak bertubuh kekar, sedangkan ia amatlah kurus. Namun, si katak kecil hanya tersenyum dan membulatkan tekad untuk mengikuti sayembara itu
Akhirnya perlombaan dimulai. Baru beberapa meter menanjak, beberapa katak jatuh. Katak yang lain memerhatikan katak yang jatuh tadi dengan pandangan ngeri. Mereka baru sadar, bahwa kemampuan mereka sebagai katak adalah melompat bukan memanjat. Satu persatu katak jatuh, dan hanya tersisa 3 katak, termasuk katak kecil itu.
“Puncak menara itu sangat tinggi. Mustahil kalian dapat mencapainya”, teriak penonton. Katak yang telah jatuh pun ikut berteriak “dari ketinggian 3 meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi dari ketinggian 15 meter. Pasti tulang-tulangmu remuk!” Seekor katak yang masih memanjat mulai khawatir. Ketika melongok ke bawah, ia sadar ternyata memang tinggi sekali menara itu. Akhirnya ia pun mengundurkan diri.
Tinggal dua katak yang masih bertahan, termasuk si katak kecil. “Hati-hati, di atas sana licin, kamu pasti terpeleset”, lagi-lagi teriakan penonton. Teriakan tersebut membuat saingan si katak kecil berpikir “licin? Aduh, bagaimana kalau aku jatuh nanti?”. Akhirnya saingan si katak kecil mengundurkan diri.
Tinggal katak kecil seorang diri. “Katak kecil, di atas licin, kamu pasti jatuh”, suara lain menimpali “iya menyerah saja. Angin di atas berhembus sangat kencang, kamu pasti terbang terbawa angin”. Katak kecil tak peduli dan terus saja memanjat. Dan, hap, katak kecil sampai di menara tersebut. Suara penonton mulai menyorakinya “Ya Tuhan...... ia berhasil”. Saat katak kecil turun, penonton mengerubunginya dan bertanya-tanya bagaimana bisa ia berhasil. Ketika katak kecil diam saja, ibu katak kecil ini berkata “Katak kecil ini tuli. Ia bisa sampai di puncak karena tidak mendengar ucapan-ucapan kalian yang melemahkan semangatnya. Ia bisa terus memanjat karena ia hanya mendengarkan suara hatinya dan konsisten pada tujuan yang ingin dicapainya”.

Insight : cerita di atas menginspirasi bahwa dalam setiap perjalanan kita meraih impian, akan selalu ada orang-orang di sekitar kita yang mencemooh, mencela, bahkan secara langsung mencegah kita meraih impian. Mungkin tujuan mereka baik, misalnya tidak ingin kita mengalami kesengsaraan atau kegagalan. Namun ada juga yang sengaja mencegah kita meraih impian, karena dalam hatinya ada rasa iri jika ada orang lain yang lebih berhasil dibandng mereka. Orang-orang iri tersebut pada dasarnya puas dengan kondisi mereka dan tidak mau berusaha untuk lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar