Selasa, 02 September 2014

Keledai dan Sumur


Alkisah ada seekor keledai milik seorang petani yang jatuh terperosok ke dalam sumur. Hewan itu menangis pilu berjam-jam, sementara si penati memikirkan apa yang harus dilakukan. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur tersebut harus ditimbun karena berbahaya.  Kemudian si petani mengajak para warga untuk membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menimbun sumur itu. Mulanya, ketika si kedelai menyadari apa yang terjadi, ia menangis ketakutan akan kematian yang akan menghampirinya. Namun lama-lama, si keledai diam dan tenang daripada sebelumnya. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata keledai itu mengguncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun kebawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara warga terus menuangkan tanah ke atas punggung hewan itu, keledai pun juga terus mengguncangkan tubuhnya dan melangkah naik. Saat tanah sudah hampir memenuhi sumur, si keledai meloncati tepi sumur lalu berlari bebas penuh kesenangan.
Kawan, layaknya keledai tersebut kita merasakan bahwa kehidupan terus saja menuangkan tanah (masalah) kepada kita. Namun hanya ada satu cara untuk keluar dari ‘sumur’ kesedihan itu. Yaitu dengan mengguncangkan tanah dari diri kita dan melangkah naik dari ‘sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah merupakan batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah!
Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan :
1.       Bebaskan dirimu dari kebencian
2.       Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3.       Hiduplah sederhana
4.       Berilah lebih banyak
5.       Tersenyumlah
6.       Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar